GURU BARTIM


SERTIFIKASI 2008
Juli 1, 2008, 11:51 am
Filed under: Tak Berkategori

Hasil sertifikasi tahun 2006 dan tahun 2007 telah diumumkan. Untuk rayon 18 Unpar pengukuhan terakhir dilakukan pada akhir 2007. Namun menurut teman-teman yang telah lulus, belum terima juga tunjangan yang dijanji-janjikan. walaupun sudah berkali-kali, bersungai-sungai, bolak-balik melengkapi berkas.

Berbagai pertanyaan lantas muncul,

apa sebenarnya tujuan sertifikasi guru?

apakah yang meyertifikasi guru sudah punya sertifikat?

apakah sertifikasi dapat meningkatkan kualitas pendidikan?

apakah sertifikasi untuk meningkatkan kesejahteraan/penghasilan guru?

Iklan

5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

SERTIFIKASI GURU,………..?
SEBAGAI PENINGKAT KESEJAHTERAAN GURU………,
SEBAGAI PENNGKAT MUTU PENDIDIKAN…………..,
ATAU SEBAGAI PEMICU KECEMBURUAN ANTAR SESAMA GURU………?

Undang-Undang guru telah disahkan dan sudah mulai ada ancang – ancang untuk diberlakukan, namun penulis sebagai guru masih belum tahu persis maksud dan tujuan adanya sertifikasi guru tersebut, karena penulis yang hanya lulusan Diploma tidak diberi kesempatan untuk mengikuti Sertifikasi tersebut meski masa kerja saya hampir 20 tahun dan sudah ribuan siswa yang sudah kami luluskan dan bahkan sudah banyak siswa penulis yang sekarang sudah menjadi teman sejawat bahkan ada juga yang sudah menjadi orang yang berhasil dalam kehidupan bermasyarakat.

Memang banyak kawan guru yang sangat antusias menyambut kebijakan tentang sertifikasi ini terutama mereka yang sudah mengantongi ijazah Sarjana ( S1) karena dengan lulus sertifikasi maka akan memperoleh tunjangan profesi sebesar 100% gaji pokok, namun bagi penulis pribadi kutanggapi dingin karena disamping penulis tidak ada modal untuk ikut setifikasi penulis juga masih bingung apa tujuan sertifikasi itu sendiri ?

Sebagai Peningkat Kesejahteraan guru, tapi kenapa hanya dicari yang Sarjana ? berarti apakah yang cuma lulusan diploma/PGSLP dianggap bukan guru, sementara syarat untuk mendapat Sertifikat hanya dengan mengumpul fortopolio, apakah lulusan diploma/PGSLP dianggap tidak mampu menyusun fortofolio yang tinggal mengisi format yang sudah disediakan ? Sebenarnya kalau memang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan guru sebaiknya langsung diberikan kesemua guru tanpa memandang sarjana atau tidak, dengan catatan benar-benar dilakukan pengawasan dengan ketat, …….kalau memang guru sudah sejahtera harus tenaga dan pikirannya total untuk mendidik dan mengajar bukan untuk mengojek dlsbgnya untuk alasan mencukupi kebutuhan, apabila kebutuhan sudah terpenuhi tidak ada alasan guru untuk LENCA-LENCE.

Sebagai Peningkat Mutu Pendidikan, kok rasanya saya masih sangat sanksi, apakah kalau sudah sertifikasi menjamin bahwa guru tersebut bisa meningkatkan mutu pendidikan kalau pengawasannya masih seperti yang dulu-dulu, karena saya sendiri punya pemikiran bahwa mutu pendidikan ditentukan berbagai factor, al : SDM pengajar, sarana-prasarana, dan yang tak kalah penting adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, selagi masyarakat secara luas belum sadar bahwa pendidikan sebagai kebutuhan pokok maka sulit untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan masih banyak faktor2 lain yang tidak dapat penulis sebutkan.

Sebagai Pemicu kecemburuan antar sesama guru……..?
Kelihatannya menurut penulis ini yang pasti akan terjadi nanti di setiap sekolah-sekolah karena ada sebutan guru bersertifikat dan guru tidak bersertifikat dengan perbedaan penghasilan yang signifikan, sementara hari-hari saling sama-sama tahu kekurangan dan kelebihan tiap individu di setiap unit kerja.

Oleh karena ada kebijakan sertifikasi guru ini penulis muncul ide-ide konyol yang mungkin sebagai bentuk kompensasi , atau frustasi karena tidak bisa ikut sertifikasi pokoknya terserah saja pembaca untuk berapresiasi tentang tulisan ini.
Adapun ide-ide tersebut sebagai berikut :
1. Kalau ingin meningkatkan mutu pendidikan mari kita buat suatu gerakan moral bahwa guru ini jangan dianggap suatu PROFESI namun mari kita jadikan guru ini sebagai HOBBY. Penulis mengatakan demikian bukannya tidak beralasan , contoh sederhana, penulis seorang yang hobby badminton maka tiap sore penulis dengan suka rela berkorban untuk menyisihkan penghasilannya untuk membeli bola bulutangkis yang harganya lumayan mahal, andaikata semua yang berkecimpung di dunia pendidikan mau berkorban untuk sebuah hobby yang namanya guru maka penulis yakin mutu pendidikan akan meningkat. Dan jangan menyebut guru sebagai PROFESI karena rasanya sangat ironis, contoh petinju professional maka dia bisa kaya raya dari hasil bertinjunya, namun sampai saat ini banyak juga guru yang professional tapi kenyataannya hidupnya pas-pasan, memang ada sebagian keluarga guru yang bisa membeli mobil namun setelah penulis amati bukan dari hasil guru, tapi dari isterinya yang punya usaha yaitu JURAGAN SANDAL.
2. Jangan ada kebijakan yang dapat menimbulkan kecemburuan di kalangan guru itu sendiri, karena pada dasarnya guru dari jaman dulu sudah biasa hidup pas-pasan tapi kenyataannya lembaga-lembaga pendidikan tetap bisa jalan sampai sekarang berarti sebenarnya sudah banyak guru yang professional meskipun tidak mengantongi satu lembar kertas yang menyatakan dirinya telah lulus SARJANA. Penulis mengatakan begini bukan karena penulis egois merasa tidak sarjana dan belum dapat kesempatan untuk ikut sertifikasi, yang ada dibenak penulis adalah melihat bapak/ibu guru yang sekarang sudah usia 50 tahun ke atas dan sebentar lagi pensiun tidak bisa mengenyam enaknya jadi guru karena karena tidak sertifikasi oleh tidak Sarjana, sementara kalau dihitung jasa-jasanya tidak sedikit dan untuk penulis sendiri saat ini baru usia 40 tahun, kalau diberi umur panjang oleh Tuhan maka Insnya Allah masih bisa lulus sarjana dan masih bisa ikut sertifikasi.
3. Kalau Sertifikasi untuk meningkatkan penghasilan guru tanpa ada pengawasan yang ketat penulis ada kekuatiran jangan-jangan nanti dihitung dengan cara nilai ekonomi yaitu dengan cara ingin segera mendapat Sertikikat guru professional dengan cara menghitung untung rugi yaitu membeli dengan harga berani mahal dengan perhitungan selama 4 atau lima bulan kembali modal dan tinggal untungnya sementara jadi gurunya sama sekali tidak becus.

Tamiang Layang, 18 Februari 2008
Penulis,

WALUYO

Komentar oleh WALUYO

mboooooh ! ora ngertiiiii/!!!

Komentar oleh yono brindil

Sertifikasi bukan tujuan ! Itu baru sampai litasan pertamanya; sebab banyak lagi lintasan yang perlu dilewati untuk menjadi guru yang baik.
Kalau sudah punya “sertifikat guru” seharusnya merasa sangat malu kalau tidak bisa menjadi guru yang terbaik eh, ya yang baik. Karena sudah punya banyak duit karena menjadi guru yang sudah diakui kompetensinya. Selamat untuk GURU !

Komentar oleh BERNARD SALASSA

salam kenal dari dalang Ampah pak. maaf baru berkunjung dan belum sempat baca

Komentar oleh ngatirin

terima kasih Pak Dalang.

Komentar oleh hamid08




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: